4 Istilah Budaya Hantaran Makanan yang Ada di Indonesia

Spread the love

Berbicara tentang budaya Indonesia memang tidak pernah ada habisnya, bukan? Salah satu budaya yang tumbuh di lingkungan masyarakat Indonesia yaitu hantaran makanan. Untuk mengetahui istilah budaya hantaran makanan yang ada di Indonesia, simak ulasan berikut ini, yuk.

4 Istilah Budaya Hantaran Makanan yang Ada di Indonesia

Budaya Hantaran Makanan

Hantaran makanan merupakan tradisi berbagi makanan yang dilakukan masyarakat Indonesia saat ada hajatan atau menjelang perayaan hari besar keagamaan seperti hari raya Idul Fitri umat Islam, hari Natal umat Kristen dan Katolik, perayaan Imlek umat Konghucu, dan acara lainnya.

1.     Munjung

Bagi kamu yang berasal dari daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah pasti sudah tidak asing lagi dengan istilah munjung, bukan? Munjung yang berasal dari kata “kunjung” ini merupakan tradisi membawa hantaran makanan menggunakan wadah nasi atau rantang menjelang hari raya Idul Fitri.

Menu makanan yang biasa dijadikan sebagai hantaran yaitu opor ayam, ketupat, sambal goreng ati, sambal goreng kentang, dan makanan khas Lebaran lainnya. Tradisi hantaran makanan ini juga mengandung makna yaitu pentingnya menumbuhkan rasa saling berbagi antar sesama.

Budaya hantaran makanan ini juga menjadi sarana edukasi bagi anak-anak untuk memiliki rasa empati dan suka berbagi. Tradisi hantaran makanan ini bertujuan sebagai perwujudan rasa syukur dan berbagi kebahagiaan dengan saudara, tetangga sekitar, atau orang-orang yang membutuhkan.

Tradisi ini juga menjadi perwujudan implementasi dari nilai-nilai ajaran agama yaitu bersedekah dan berbagi dengan sesama. Seiring berjalannya waktu, tradisi munjung tidak hanya melulu makanan khas lebaran saja, tapi bisa juga diganti dengan saling mengirim hampers atau bingkisan parcel.

2.     Nganteuran

Selain tradisi munjung, masyarakat Indonesia juga menggunakan istilah “nganteuran” untuk menyebut tradisi berbagi hantaran makanan. Hampir sama seperti tradisi munjung, nganteuran atau tukar rantang ini biasanya dilakukan untuk mengantar nasi dan lauk.

Tidak hanya nasi dan lauk saja, rantang yang digunakan untuk hantaran makanan ini juga diisi dengan bakakak atau ayam panggang, gula, kopi, udud atau rokok, dan berbagai macam buah-buahan. Tradisi mengantarkan makanan ini biasanya dilakukan menjelang hari raya Idul Fitri.

3.     Ngejot

Masyarakat Bali menggunakan istilah “ngejot” untuk menyebut budaya memberi hantaran makanan untuk tetangga atau sanak saudara. Tradisi ngejot ini dilakukan oleh umat Islam yang tinggal di Bali ketika menjelang perayaan Idul Fitri.

Tradisi mengantarkan makanan kepada tetangga atau sanak saudara ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih kepada sesama untuk menjalin tali silaturahmi dan memupuk kebersamaan (menyambraya).

Budaya ngejot ini juga menjadi simbol kerukunan dan keharmonisan antar umat beragama yang tinggal di daerah Bali sehingga dapat hidup berdampingan dengan damai dan rukun. Selain itu, tradisi ini juga bertujuan untuk mengajarkan kepada anak tentang pentingnya berbagi dengan sesama.

4.     Ater-ater

Selain munjung, masyarakat Jawa juga mengenal istilah “ater-ater” untuk menyebut tradisi hantaran makanan. Ater-ater merupakan tradisi berbagi dengan mengantarkan makanan ke sanak saudara atau tetangga sekitar sebagai ungkapan rasa syukur dan terima kasih.

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman yang makin maju, hantaran makanan ini nggak cuma makanan siap saji saja, lho. Hantaran makanan ini juga bisa diganti dengan bingkisan parcel seperti kue kering, sirup, biskuit, makanan ringan, dan lain sebagainya.

Dari ulasan di atas, kamu jadi makin paham dengan istilah budaya hantaran makanan di berbagai daerah yang ada di Indonesia, kan? Tradisi hantaran makanan ini sampai sekarang juga masih terus dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur dan memupuk sikap saling berbagi.